AMBON.SIN.CO.ID – Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, didampingi Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku, Haramain Billady, serta Sekretaris Daerah Kota Ambon, Roberd Sapulette, memaparkan program inovasi Pemerintah Kota Ambon dalam penjurian Financial Literacy Award 2026 secara daring di Ruang Vlisingen, Balai Kota Ambon, Rabu (29/7/26).
Inovasi tersebut diwujudkan melalui Program BETA KEJAR (Bersama Tingkatkan Literasi Keuangan, Satu Rekening Satu Pelajar) berupa Modul Ajar Literasi Keuangan yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran IPS bagi seluruh tingkatan SMP dan MTs se-Kota Ambon.
Dalam paparan Wali Kota di hadapan tim dewan juri nasional, Ia menegaskan pentingnya inovasi terstruktur tersebut untuk memacu tingkat literasi dan inklusi keuangan di daerah.
“Kami bersyukur bahwa dalam upaya kita bersama untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan bagi seluruh masyarakat di Kota Ambon, kami memiliki inovasi yang dilakukan. Dan inovasi ini bagi kami salah satu cara yang harus kami buat untuk memastikan bahwa literasi dan inklusi keuangan itu bisa tercapai, paling tidak meningkat di Kota ambon,” ujar Bodewin.
Program BETA KEJAR dihadirkan atas dasar sejumlah pertimbangan strategis, antara lain tingkat literasi keuangan Kota Ambon yang diindikasikan masih di bawah rata-rata nasional (66 persen berdasarkan SNLIK 2025), pola edukasi yang selama ini masih bersifat insidentil, masih rendahnya kepemilikan rekening simpanan pelajar akibat siklus kelulusan siswa, serta belum tersedianya bahan ajar khusus yang berkelanjutan untuk membentuk budaya menabung sejak dini.
“Inovasi kami ini, kami lakukan dengan latar belakang pikir bahwa, yang pertama tingkat literasi di kota ambon memang belum optimal. oleh karena itu, tujuan program inovasi ini adalah yang pertama tentu peningkatan literasi keuangan, kedua pelaksanaan edukasi keuangan yang berkelanjutan, ketiga membentuk budaya menabung, meningkatkan inklusi keuangan pada murid SMP/MTs se-Kota Ambon melalui kerjasama dengan perbankan, dan yang terakhir adalah integrasi bahan ajar literasi keuangan pada mata pelajaran IPS,” jelasnya.
Program yang diklaim sebagai yang pertama di Indonesia untuk pengintegrasian literasi keuangan ke dalam mata pelajaran IPS SMP/MTs telah diterapkan oleh 139 Guru IPS di 64 SMP/MTs, serta menyasar lebih dari 18.000 murid SMP/MTs, dan akan disampaikan dalam 1 tahun ajaran sebanyak 9 kali pertemuan
Inovasi ini juga selaras dengan Program Prioritas Wali Kota dan TPAKD Kota Ambon Tahun 2026, yang didukung oleh kolaborasi lintas sektor antara Pemkot Ambon, OJK, Kementerian Agama Kota Ambon, 20 lembaga perbankan, satuan pendidikan, dan MGMP IPS.
“Kolaborasi dalam penerapan program ini sebenarnya yang menunjukkan bahwa membangun literasi dan inklusi keuangan butuh kerja bersama dari seluruh pihak. kita berharap dari kolaborasi yang terbangun ini, kita semua fokus konsen terhadap pendidikan, khususnya literasi keuangan di kota Ambon,” ungkap Bodewin.
Dalam percobaan penerapannya program ini telah memberikan dampak nyata di lapangan, mulai dari pemahaman literasi dan kewaspadaan transaksi keuangan digital para siswa kian meningkat hingga sektor perbankan di Kota Ambon pun turut aktif berpartisipasi melalui Bank Goes to School dan penyediaan fasilitas pembuatan rekening Simpanan Pelajar (SimPel).
“Saya yakin dan percaya bahwa ini merupakan sebuah program bersama. Karena itu keterlibatan seluruh pihak, saya yakin akan memastikan bahwa tujuan program ini pada waktunya dia akan bisa tercapai secara baik,” tutup Wali Kota













